“….milih….”
“….bagaimana mau memilih jika tidak ada pilihan….”
Ketika saya masuk ke sebuah toko alat – alat rumah tangga, saya bermaksud membeli cairan pemutih. Setelah tengak – tengok antara rak satu dan rak lain, ternyata produk cairan pemutih ini banyak sekali, sampai bingung milihnya…
selang beberapa menit kemudian ada pramuniaga yang menghampiri dan menanyakan saya ingin membeli apa dan langsung saya sampaikan keinginan saya. Kemudian pramuniaga ini langsung menerangkan segala produk pemutih ini dengan sangat fasih…pokok nya manteb banget deh…
Tapi kok saya tambah bingung ya….
Akhirnya saya pamit dan bilang ke pramuniaganya…”mas makasih ya, kelihatannya saya lihat – lihat dulu deh…”. Yups saya ga jadi beli.
Ga salah kan, untuk memilih tidak memilih. Itu kan juga pilihan, masak saya harus maksain beli produk pembersih itu karena kasian ama mas mas pramuniaganya. Lha wong setelah dipikir daripada kecewa beli produk pembersih itu, taunya produknya jelek, ga mbersihin secara maksimal, ato malah melunturkan warna alami baju – baju saya dan bla bla bla lain yang buat kecewa…..